agustine

Menulis, Penulis dan Pembaca

Menulis adalah mengekspresikan hati dan otak kedalam bentuk tulisan. Tulisan berpengaruh jika menggunakan hati, bukan otak semata. Perasaan marah, kecewa, sedih, senang, semangat bisa tercermin lewat tulisan. Permainan emosi akan membuat pembaca tergugah untuk terus membaca tulisan anda. Coba bayangkan jika anda menonton film bioskop, tetapi pada 10 menit pertama adegannya tidak membangkitkan emosi, tentu anda akan segera meninggalkan film tsb bukan? It’s Boooo….ring!

Penulis harus siap menerima pertanyaan, kritik, saran, protes dan ancaman. Semuanya menyakitkan hati, tapi dibalik itu ada hikmah dan ilmu yang bisa diambil. Jika ada pembaca yang kritik jawablah dengan permohonan maaf dan rendah hati misal “Mohon maaf atas ketidak sempurnaan buku tersebut, masukannya bermanfaat untuk saya”. Jangan dilawan dengan bantahan atau menantang, karena kritikus tidak akan menyerah untuk menyerang balik, yang akhirnya hanya membuang waktu, pikiran dan tenaga saja.

Pembaca mana sih yang senang dinasehati, diceramahi? Lebih baik diskusi daripada kuliah bukan? Posisikan anda sebagai pembaca yang masih awam, sehingga bahasa tulisan anda bisa dimengerti banyak orang. Jangan membuat image seakan anda terlihat hebat karena akan membuat jarak dengan pembaca.