Mengapa menerbitkan buku sendiri?
Pasti penulis muda yang saya kagumi ini punya pengalaman menyebalkan dengan penerbit. Saya tidak tahu apa pengalaman itu, tetapi saya mencoba menduga-duga: jangan-jangan dia harus berurusan dengan editor bawel, orang marketing yang sok tahu, atau terkejut-kejut membaca draf kontrak yang menyebut royalti 8% atau 9%, dan itu pun masih ditambahi dengan komentar super sadis, “Anda kan penulis pemula… Kami belum tahu buku Anda laku atau tidak.”
Mungkin itu sebabnya banyak penulis yang tidak mau repot berurusan dengan penerbit, dan memilih menerbitkan buku sendiri. Ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di banyak negara praktik self-publishingberkembang cukup pesat.
Di dalam negeri saya juga kenal beberapa self-publisher secara pribadi, tahu bahwa sejumlah buku diterbitkan secara mandiri, dan pernah juga melakukan hal yang sama. Dari beberapa self-publisher, akhirnya saya tahu beberapa alasan mengapa mereka memilih menjauh dari penerbit konvensional dan memilih menerbitkan buku sendiri. Ada yang beralasan bahwa penerbit konvensional memang rewel. Menekan penulis pemula dengan royalti 8% apakah hal yang menggembirakan? Ada juga orang yang menerbitkan buku sendiri karena memiliki keyakinan yang berbeda dengan penerbit. Penerbit tidak percaya bahwa satu buku layak pasar, tetapi sang penulis sendiri sangat yakin bukunya sangat layak pasar. Karena itu ada penulis yang bertekad menerbitkan sendiri bukunya baik karena sudah bertabrakan dengan penerbit konvensional, tetapi ada pula yang mengambil tekad tersebut karena memang mau demikian.
Bagaimana hasilnya? Hasil harus dilihat berdasarkan tujuan. Ada yang tujuannya adalah agar bukunya sekadar terpajang di toko buku, ada yang sadar bahwa pasarnya sempit sehingga penerbit pasti tidak mau menerbitkan, ada yang punya tujuan ekonomi (marah dengan royalti 8%-10%), ada pula yang bertujuan agar bukunya bestseller. Dalam praktik semua tujuan itu ada, dan banyak yang berhasil berdasarkan tujuan itu. Sekadar contoh, tentu Anda pernah dengar bahwa buku ESQ terjual lebih dari 250.000 eksemplar, bukan? Anda juga ingat bahwa berapa kali cetakan awal Supernova-nya Dewi Lestari juga diterbitkan dengan cara ini, bukan? (sumber:pembelajar.com)