Mengira, menyangka, menaksir. Adalah sebuah kata dengan kata para meter yang tak pasti. Ketiga kata itu tidak selalu benar. Bisa jadi benar, bahkan bisa jadi salah. tergantung ke arah mana persepsi mereka tertuju. Kalau angkanya adalah 0 sampai 100 maka taksiran, sangkaan, kiraan bisa menjadi positif menurut yang mempercayainya. Dan ada kecenderungan bahwa persepsi penaksir ini masuk untuk mendapatkan dukungan dengan apa yang dipersepsikannya.
Saya masih ingat dengan pelajaran sekolah saat SD dulu, kalau bisa mencongak atau menaksir dengan cepat maka dia akan pulang duluan. Kalau tidak dia akan lama sekali menunggu sampai teman teman yang lain mendahului dia. Pelajaran taksiran ini menjadi sebuah pelajaran yang membuat kita semakin bisa mempersepsikan sesuatu untuk mendekati kebenaran. Pelajaran taksiran ini kemudian menjadi lebih meningkat lagi, bukan Cuma sekedar menaksir angka. Setelah SMP kita pernah diajari untuk menggambar sebuah proyeksi, yaitu kita diminta untuk menaksir sebuah ruangan. Bagiamana kita bisa menaksir sebuah ruangan dari atas, bawah, pinggir, belakang, dari segala arah. Bukan sekedar ruangan itu saja yang di lihat tetapi hingga bagaimana sinar itu bisa menembus ruang itu. Dan bagaimana ruang itu bisa nampak oleh mata kepala kita. Kalau kita menjadi seorang arsitek, maka antara taksiran, proyeksi dan kemudian visualisasi dijadikan semuah gembaran mini apa yang telah kita taksirkan tadi. Begitu juga kehidupan rasanya kita juga harus bagaimana pandai pandai menaksir, memproyeksikan kemudian dibuat suatu gambaran mini apa yang kita pikirkan.
Ok
(BRO Q, bagaimana dengan taksiran, dan proyeksinya?)
Entries (RSS)