Kata kata ini sering kali terdengar, sebagai bentuk “sendiko dawuh marang Gusti “. Pagi pagi perbincanganku dengan riska adalah tentang sami’na wa ato’na, gampangannya ngikut aja tanpa syarat. Sulit memberikan pengertian ini pada seorang awam tentang ini. Bahkan kaum moderat mereka juga jarang bisa menerima konsep ini. Sebagai orang moderat semua harus menggunakan akal pikiran. Dengan menggunakan otak. Berbeda dengan konsep sa mi’na wa ato’na, yang sebenarnya adalah kebenaran untuk patuh pada pemimpin( yang maha benar—demikian seharusnya- red). Saya masih ingat yang pernah disampaikan oleh pak shobarudin, dosen pembimbingku waktu kuliah dulu. Dia menerangkan kenapa orang muslim menggunakan peci atau kopyah sedangkan orang barat menggunakan dasi. Berbincang tentang ashabul nuzulnya, orang barat memakai dasi membawa pada pola perilakunya. Dari penampakannya mereka membuka kepala mereka dan menutup hati mereka. Berbeda dengan orang muslim, mereka menutup kepalanya yang identik dengan pikiran dan membuka hatinya.

Sehingga harusnya bisa di pahami konsep wami na wa ato na bagaimana yang harus kita lakukan. Bukankah sa mi na wa ato na itu harus pahami dengan hati bukan otak. Bahasa sederhananya adalah yang penting patuh patuh saja kepada pimpinan kita (tentunya yang maha benar– Red merangkum HASB) kalau pimpinan Yang Maha benar menyampaikan mengihtruksikan sesuatu pasti ada latar belakang, dan begin from the end-nya. Dan yang penting lagi adalah Allah memberikan sesuatu pada makhluknya sesuai dengan kemampuan masing masing. Jadi jangan bandingkan satu dengan yang lain.

(menanggapi yang di sampaikan Abu kepada Kak Mer,090807)

One Response to “Sami’ na wa ato’ na”

  1. cakjoyo says:

    trus ..jawabannya apa tuh Dhy ? hi

Leave a Reply