Pertemanan itu memang selalu ada perbedaan rasa. Pertemanan dengan rasa aman. Pertemanan dengan rasa nyaman. Pertemanan dengan rasa terfasilitasi. Pertemanan dengan rasa senang. Semua rasa yang ada itulah kemudian menjadikan akan kemana arah pertemanan itu.

Pertemanan dengan koridor itulah yang dulu pernah aku rasakan. Petemanan dengan pembatasan sekat sekat kepentingan. Pertemanan dengan hal semacam ini kemudian mengkebiri rasa. Karena terlalu straight dengan aturan yang ada di otak kepala manusia kemudian manusia itu melupakan rasa. Dan keharusannya untuk menjaga koridor pertemanan itulah yang menyebabkan kemudian tak ada bedanya manusia dengan mekanisme mesin yang berjalan lurus tanpa rasa.

Pertemanan dengan rasa itulah akan menjadi lebih indah. Baik itu laki laki ataupun perempuan. Sebagai perempuan kerja di sector public dengan waktu yang telah melewati batas 15 tahun aku merasakan. Selama ini adalah pertemanan hanya sebuah mekanisme untuk sebuah target mendapatkan jaringan. Jaringan untuk bagaimana menjadi meraih sebuah impian cita cita menjadi lebih tinggi menggapai angan sebuah singgasana sebuah pengakuan independent women. Wow………………………

Tetapi apakah itu sebuah kehidupan yang menciptakan sebuah mekanisme jaringan tanpa rasa. Hal ini sangat berbeda ketika kemudian itu ada sentuhan rasa. Pertemanan bukan untuk sebuah kepentingan tetapi sebagai ibadah untuk membangun sebuah rasa, yang untuk berjalan bersama untuk menuju Jalan Singgasana yang sesungguh sungguhnya.

Terima kasih tuhan yang telah memberikan rasa.

Sawangan, 14 februari 2008.

Ditulis bersama rasa.

One Response to “Rasa”

  1. Bro Q says:

    HIDUP RASA…………..

Leave a Reply