Menyempurnakan itulah tugas seorang perempuan. Menarik sekali apa yang di sampaikan Ida, temanku yang kini sedang berjuang untuk mendapatkan hati mertuanya. Ida adalah istri kedua dari seorang sahabatku. Dalam proses menuju pernikahannya Ida tidak pernah menyangka akan menjadi istri kedua. Ida adalah perempuan dengan karier yang cukup bagus. Aktifitas keagamaannya tidak di ragukan lagi. Saat masa lajangnya ida, banyak sekali teman laki laki dengan berbagai jenjang karier dan kebanyakan dari mereka adalah perjaka. Tetapi jodoh berkata lain.Ida harus menikah untuk menjadi istri kedua dari seorang sahabatku. Ida tidak pernah terpikir waktu itu. Di abang ini sudah akrab dengan ida sejak lama sekali. Aktifitas masjid dilakukan oleh ida tanpa pamrih. Saat itupun dia sudah kenal si abang ini. Dan tidak pernah terpikir apapun. “Siapa yang pernah bercita cita menjadi istri kedua”, demikian disampaikan Ida kepadaku. Aku hanya mengangguk saja.
Dalam hati kecilnya Ida sedih. Tetapi apalah arti kesedihan itu. Dengan kesedihan maka akan membuang waktu kita untuk berbakti kepada Tuhan. Akan lebih baik kalau semua di ambil hikmahnya. Si abang memang aktifis masjid. Kegiatannya di jalan tuhan sangat rajin, dan bersemangat. Saat kesemangatan itu ada sang istri pertamanya tidak terlalu aktif juga di masjid. Tetapi sejak dekat dengan ida dan menikah dengan ida. Abang dan istri pertamanya malah sering selisih pendapat. Mungkin istri pertamanya jealous. Tetapi itulah yang terjadi.
Ida memandang positifa akan peristiwa ini. Ida menganggap semua pasti ada positifnya. Dan posisi istri adalah sebagai faktor pendukung bagi laki laki. Perempuan diambil dari tulang rusuk adam. Sehingga seorang laki laki tidak akan bisa hidup tanpa perempuan, makanya kenapa ada pernikahan. Banyak hal yang memang itu adalah sinergi antara seorang laki laki dan perempuan.
Saking sayangnya Tuhan kepada sang laki laki. Laki laki adalah kafilah di muka bumi. Laki laki adalah seorang imam. Laki laki adalah pemimpin. Untuk mencapai kesempurnaannya menjadi apa yang telah di tugaskan tuhan maka ada perempuan perempuan yang membantu untuk kesempurnaaannya. Karena manusia itupun juga bukan hanya fisik, tetapi juga rohani. Yang semua itu pasti perlu penyeimbang. Suporting itulah mungkin kata yang pas untuk seorang perempuan. Ketika posisinya suporting, ya jelas bahwa keeradaannya tidak boleh mendominasi, tetapi menemani, mendukung untuk seiring sejalan.
Salut untuk Ida atas pelajaran positifnya. Bahwa yang diciptakan Tuhan ini adalah untuk sesuatu yang menjadi lebih baik dan lebih baik.
( Ida bukan nama sebenarnya, tetapi ceritanya beneran)

Catatan perjalanan Bandung, 12-13 Januari 2008, dengan semua kisah untuk menuju kesempurnaan.

2 Responses to “Menyempurnakan”

  1. dyah says:

    Oooh jadi batal nulis kronik jadinya malah kronik orang lain ini to coeng… tapi utang kronik tetep utang lo… :D

  2. SANTRI GUNDHUL says:

    Huuueeee..lah..dhalah…

    Kuwi sing jenenge NRIMO ing PANDUM…kiro-kiro mathuk gak yah mbak?
    Asal kabeh mau wus kaleksanan kanti IKHLAS lan RIDHLO yoh…monggo dilakoni kanti sabar lan tawaqal. Mungguh Kanjeng Gusti NGIJABAHI..lak ngono to mbak…

    Masih Aktif ke Sawangan kah dirimu mbak Mancoeng..?? he..he…salam 513 waek lah..
    Piye kabare Malang….sih adem ayem wae?
    Salam

    Kera Ngalam
    soko Padepokan Borneo Timur

Leave a Reply