Alami. Pagi pagi aku mendapat kata kata alami dari seorang teman yang mambaca tulisanku. Aku juga tidak begitu paham apa yang dia maksud dengan alami. Aku berbaik sangka aja, bahwa alami yang dimaksudkannya adalah apa adanya cerita biasa yang tanpa ada apa apanya, tidak berbunga bunga. Terima kasih apresiasinya. Tetapi kemudian sejenak aku berpikir, apakah ini yang dimaksud dengan tangan Tuhan. Tuhan mengekspresikan rasa suka, puas, marah, sedih lewat orang orang di sekitar kita. Karena tidak mungkin tuhan menunjukan tangannya kepada kita. Bagaimana mungkin? Tuhan adalah dzat yang berbeda dengan makhluknya. Tuhan berbeda dengan monyet, Tuhan berbeda dengan manusia, Tuhan berbeda dengan pisang, atau bunga mawar yang wangi sekalipun. Tuhan bukan itu. Tetapi Tuhan adalah Dzat di luar kekuasaan manusia, diluar kekuasaan makhluknya.
Ibarat gardu listrik Tuhan mempunyai kekuatan listrik yang luar biasa, dan jika di sentuhkan pada sebuah baterei kekuatan 9 volt pasti terbakar. Tuhan juga begitu, karena Dzat yang Maha segalanya tidak mungkin memiliki kekuatan yang bisa langsung di terima manusia biasa, tanpa perantara. Oleh karena itu tangan tangan Tuhan di titipkan pada makhluk di sekitar kita. Lantas mengapa kita lupa untuk bersyukur atas wakil tangan Tuhan itu? Bersyukur lah kita dengan bersenang senang. Senang tanda bahagia.
Â
( tangkapan inspirasi HASB, suatu malam di Troba, 6-7,07, 07)
Entries (RSS)
July 13th, 2007 at 9:04 am
Tuhan memang Zat yang maha. Justru karena Mahanya bukankah mungkin ia mengatur kuasanya sendiri untuk menyentuh hambanya yang ia cintai dan yang sangat ingin bertemu dengannya. Jauh tidak berjarak, dekat tidak bersentuhan, bahkan lebih dekat dari urat nadi menunjukkan sebenarnya Dia meliputi kita.
Kalau boleh main ibarat, kasarnya seperti spons di dalam air, kira2x begitu.
Selamat mencari.