Mengarungi samudera mulai duduk, berdiri dan tidur. Sejak kecil aku sudah mengenal lagu nenek moyangku seorang pelaut. Tetapi aku baru kenal laut kelas 6 SD waktu aku perpisahan sekolah ke Madura. Tetapi itupun Cuma 10 menit. Menyeberang ke Selat Madura. Penyebarangan yang lain aku lakukan saat aku ke Bali dan Lombok. Penyeberangan ke Lombok rasanya sangat menakutkan, karena kapal yang aku tumpangi bersama adik dan omku, terkena ombak besar dan membuat kapal itu berbalik arah. Aku hanya mendekam ketakutan, sementara omku hanya ingin menenangkan kita agar kita tidak panik.
Hari ini sangat beda yang kurasakan. Aku mengarungi samudra dengan ombak besar menggunakan perahu dengan satu mesin saja. Kapal Pantara. Semua orang sudah di persiapkan dengan antimo dan antangin, karena orang pintar minum tolak angin. Semua orang tanpa tedeng aling aling minum antimo dan antangin.
Hari ini aku menaiki kapal yang sangat pendek dekat dengan gelombang. Kapal kita berusaha untuk memecah ombak. Goyangnya mak, maut. Saat duduk aku merasakan betapa ombak itu mengguncang perutku. Duduk aku merasa harus mempertahankan diri untuk bisa duduk enak. Artinya kita berusaha untuk mendapatkan posisi nyaman tidak berusaha untuk menikmati.
Kemudian aku mencoba berdiri dan berusaha untuk mengikuti alunan ombak itu, sambil aku melihat kapal ke depan, ternyata pasa posisi ini terasa lebih enak. Karena kita ikut arus. Yang kemudian juga saya coba adalah dengan tidur. Aku tidur karena minum antimo dan tolak angin. Posisi ini terasa lebih nikmat lagi, karena sama sekali aku tidak merasakan gelombang itu. Tetapi aku hanya pasrah terbawa arah kapal itu dan akhirnya sampai ke pulau.
Sering kali mengarungi samudra diidentikkan dengan kehidupan. Karakter ombak yang beraneka ragam menjadikan sebuah analogi bahwa hidup ini adalah seperti ombak yang selalu naik turun. Selama ini aku hanya memahami saja dengan majas majas semacam ini. Tetapi tidak untuk hari ini. Karena setelah aku merasakan naik papal dan mengarungi samudra. Bahwa persoalan kehidupan adalah bagaimana kita menghadapinya , dan bagaimana bersikap, sama halnya memposisikan diri untuk menghadapi ombak di laut, berdiri duduk ataupun tidur, sungguh ini menakjubkan untuk sebuah pengalaman . semakin kita memikirkan apa yang kita hadapi semakin bingung kita bersikap, dan akhirnya bukan kebingungan yang harusnya kita sikapi, melainkan bagaimana kita memahami esensi sebuah persoalan yang kita hadapi, segera bangun dan bersikap itu mungkin perlu,.
Jadi mengarungi samudra kehidupan tidak lepas dari bagaimana kita lepas dalam mengambil sikap akan efektifitas kehidupan itu sendiri.
Pantara, Pulau Seribu, 6-7 September 2007
Entries (RSS)