Perjalananku di sebuah hutan membuat aku ngeri. Ngeri sekali. Karena konon di hutan ada hal hal yang membuat manusia biasa ini menjadi sedikit mistis. Jadi kadang terasa merinding tiba tiba. Terasa ada yang mengikuti. Yang aneh aneh lah. Aku ceritakan hal ini pada teman dekatku (seorang climber begitu dia menyebutkan dalam ktpnya namanya Ucong, karena terobsesi menjadi menantu Pak Coki, sekarang namanya berubah menjadi Conkie—red , medio Januari 99). Yang dia katakan adalah setiap dia mau melakukan sesuatu hal selalu dia lapor pada Gurunya. Aku langsung bertanya, lho wong di hutan kok lapor.
Kalau di pikir pikir iya ya kalau punya guru yang itu adalah identik dengan panutan kita atau pimpinan kita, dan kemudian kita lapor kan setidaknya ada yang tanggung jawab. Kalau kita kesulitan tinggal minta tolong saja, kok susah. Jadi kalau tidak punya guru kenapa kita tidak cari guru. Kalau kita tidak punya pimpinan kenapa kita tidak mencari pimpinan. Guru juga macam macam. Guru bahasa inggris dia akan mengajari kita kalau kita kesulitan dalam berbahasa inggris. Guru silat juga akan membantu kita kalau kita kesulitan dalam silat apalagi kalau kita mendapatkan kesulitan menghadapi hajaran dari lawan. Guru agama juga begitu. Guru spiritual ya begitu juga kan. Kalau kita sulit ya tinggal lapor saja.
Tetapi sebagai murid kita juga harus tau diri, bagaimana menjadi murid yang baik. Bagaimana laporan kita akan menyenangkan hati Guru. Laporan kepada guru itu adalah identik dengan minta ijin. Ya sebagai murid juga jangan seenak enaknya sama sama saling menjaga.
( tulisan ini menunjukan ternyata dari Uconk masih ada yang diingat oleh mancoeng)
Entries (RSS)
August 2nd, 2007 at 10:34 am
mau ngapain aja memang harus ijin dulu khan… nyari guru juga nggak perlu repot koq, wong tiap saat dia hadir beserta kita koq…
December 3rd, 2009 at 3:08 pm
you just got yourself a place in my bookmarks