Pukul 13.00 Semua orang menjadi panik. Mereka semua berlarian. Hari ini jam 15.30 adalah rapat kerja tahunan. Wow, keren. Kesigapan, kecerdasan menjadi parameter yang tepat. Itulah manusia tangguh dengan keseimbangan antara otak kanan dan kirinya. Tuhan tidak akan membuat itu kalau tidak ada gunanya. Dan tuhan akan selalu menciptakan keseimbangan.
Siang ini aktifitasku di depan laptop sedikit rapat. Beberapa planing dan dead line sudah aku buat. Tetapi aku adalah orang yang tidak pernah mengelak untuk orang bertanya padaku. Menjawab yang aku bisa, hanya itu yang bisa aku lakukan. Mudah mudahan ini di kategorikan sebagai berbuat baik. Biar aku di anggap bisa belajar berbuat baik. Ate kemudian membawa selembar kertas dan pulpen. “mbak jam setengah empat, kita akan ada rapat kerja tahunan. Apa saja yang harus saya laporkan?”. Ini adalah sesuatu yang menarik. Meskipun lebih dari hitungan jari tangan aku mengikuti rapat tahunan, tetapi ini sangat menarik bagi aku, untuk memformulasikan jawaban singkat rapat kerja tahunan. Jawaban ku cukup singkat untuk mengukur rapat tahunan adalah apa saja pelayanan yang sudah dilakukan, bagaimana kerjasama dengan divisi lain, apa saja yang di anggap sebagai keberhasilan, dan hambatan apa selama ini. Jawaban ini bisa di mengerti. AF pun berlalu.

Akupun melanjutkan aktifitasku. Tak lama di depanku Kukus kemudian menerima telpon dan menjawab telpon dengan nada yang sama. Dia mendapat instruksi untuk mempersiapkan presentasi untuk rapat tahunan. Semua data yang selama ini di kumpulkan di turunkannya dan dia mencoba mendatanya. Kukus mentabulasi data data yang telah di ambilnya. Yaitu jumlah pelatihan yang sudah diadakan. Aku pikir memang betapa lemahnya sistem database kita nih. Untuk sebuah kegiatan besar tidak ada database yang benar. Database adalah barang mahal yang akan membuat sejarah dan model pada masa yang akan datang.
Tak lama dari itu Chito juga mendapatkan instruksi untuk mengumpulkan data tentang dokumentasi yang ada selama ini burupa keping video. Mantap.
Kalau tugasku, aku hanya pemulung kata yang ingin mengabadikan informasi apa apa yang telah mereka mereka, dan orang orang lain kerjakan.
Uconk pun datang, uconk mencoba memformulasikan apa apa yang hendak disampaikan nanti. Kemudian yang muncul dari diskusi kita berempat adalah menampilkan data kuantitatif, karena data kuantitatif adalah jumlah yang sangat obyektif untuk mengukur suatu aktifitas. Dengan angka bisa di lihat dengan mudah.
Ini sudah jam 3 sore. Berdiskusi sambil di buat slidenya. Meskipun tak maksimal tapi jadi. Beberapa data terkumpul dan bisa.
Aku yakin yang lain juga demikian. Satu pelajaran yang pernah aku dapat dari Fadilah Putra, seorang teman kuliahku. Sebenarnya kualitas manusia itu tidak bisa di bohongi. Maksudnya ketika dia harus membagi otaknya berpikir dengan banyak hal dan berpikir dengan satu hal, maka hasilnya tidak jauh beda. Dia memberikan contoh eksperimen, seorang bapak yang diberi 3 pekerjaan sekaligus, yaitu membujuk anak yang sedang menangis karena di tinggal ibunya, mengetik sebuah makalah dan membuat mie rebus. Jika keseimbangan dia bagus maka pekerjaan ini akan terselesaikan semua meskipun tidak maksimal. Dan itulah yang benar. Karena manusia hidup ini bukan hanya menghadapi satu masalah sampai larut, tetapi bagaimana membuat banyak keputusan dalam satu waktu, tanpa mengorbankan yang lain.
Mempartici otak sangat penting, membagi otak pada bagian bagiannya. Kita tidak usah sok bahwa otak hanya satu. Karena otak semua orang memang satu saja. Bagaimana kita memiliki yang satu ini tetapi fungsional.
(Pak Jendral, pelajaran keseimbangan ini sangat menarik. Cukup indah bagaimana kemudian orang bisa membuat mind map dalam bertindak. Flow chart kerja nyata bisa di lihat di sini. Setidaknya itulah yang sudah dilakukan oleh Ate dan Aming dalam proses ini, mereka bisa memutuskan sebuah langkah.)

One Response to “Keseimbangan”

  1. fadil says:

    Hoi!!!! I miss you cung…
    tapi mengapa kau melakukan kebohongan publik di profil web mu ini. karena sesungguhnya orang-orang kan memanggilmu “cung” trus kenapa mbok keren-keren kan menjadi “dhy”? (guaya mu, panganane jemblem karo menjes koq pake ‘dhy’ barang..??!!!)
    apakah ini bagian dari ambisimu atas perubahan itu? jangan berubah akeh2 cung! please… tetaplah gendheng seperti dulu. karena di situlah aku menemukan dirimu yang menjelma seperti warung kopi (yang juga jualan pecel dhewo) di lereng gunung, tempat para pendaki merasa aman, nyaman, hangat terlindung dari kucuran hujan. dan… suatu saat para pendaki itu akan kembali ke lereng gunung itu, tak untuk pergi ke puncak, tapi ke bilik yang penuh sesak dengan kehangatan tjinta. mereka rasa, keindahan dan ketakjuban paripurna yang ada dipuncak, ternyata ada di situ.
    tapi.. lalu… saat pemilik warung kopi dan pecel dhewo berpikir, “wah aku harus berubah nih..! mau tak bangun tingkat tiga warung ku ini, lantai satu jadiin starbucks, lantai dua diskotik dan lantai tiganya panti pijat.. pasti lebh seru…!” coba saja, gak sampe seminggu para pendaki pasti akan ngabur. meninggalkan dirimu, warungmu sendiri sepi di lereng gunung yang wingit menyeringai…
    aarrgghh…!!! aaooouuu…. guk.. guk!
    hiiiyyy..!

    fadil
    Hyde Park, Austin.

Leave a Reply