JM hari ini menyapaku dengan penuh antusias. Pertanyaan yang selalu aku tanya pada para teman teman kerja lamaku adalah sekarang apa aktifitasnya? JM menjawab dengan lantang dia bekerja pada sebuah perusahaan swasta yang cukup besar dengan posisi yang cukup layak dan memadai. Kendati demikian JM dengan nada rendah dia menyampaikan kalau penempatannya di luar pulau ini.
Satu yang aku katakan, mantan sopir truk kok, ya harus siap. Dia tertawa kuingatkan tentang sopir truk. 5 tahun lalu JM adalah adalah seorang anak muda belia datang melamar pekerjaan dengan menggunakan vespa butut ke sebuah media elektronik yang cukup berkilau di kotanya. Dia melamar dengan bermodal nekad. Bagaimana tidak nekad, lha wong dia adalah mahasiswa FMIPA biologi, pernah bekerja sebagai sopir truk dan kernet dengan perjalanan jauh. Pil kecil seukuran CTM selalu memasuki ruang rongga tenggorokannya. Perawakannya sedang tinggi, tampan tapi tak terawat, karena rumahnya yang sangat dekat dengan kebon tebu.
Aku berkesempatan untuk meng interview nya. Dalam interview itu hanya tawa yang dia bisa lemparkan. Jawabannya biasa saja. Tidak ada yang menarik, kecuali keyakinan dan kegigihan dia. Aku tahu dia grogi menghadapi perempuan seperti aku yang tak pernah senyum. Di kawani seorang lelaki menado yang berperangai keras. Tetapi justru dalam kegrogian itu aku melihat seseorang sesungguhnya. Tak bisa mengelak. Tak tahu berbuat apa. Dan justru itulah dia yang sesungguhnya.
Perdebatan cukup panjang untuk meng goal kan JM bergabung dengan institusi ini. Dan aku bilang aku siap bertanggung jawab atas pilihanku ini. Dengan gigih aku dampingi dia mulai pelajaran yang menurut orang lain sangat sepele. Untungnya, dia tahu apa yang aku maksud. Dengan segala tekanan yang cukup kuat, kerja pagi pulang malam. Dengan segala dead line, JM berhasil melalui semuanya. Hingga segala fasilitas mengalir. Setidaknya si merah, sepeda motor tahun 70 an sudah di ganti dengan yang lebih bagus. Belum lagi kesejahteraan yang lambat laun meningkat. Memegang kartu pers. Mewawancarai orang penting, mulai bupati, menteri, presiden…. semua sudah di laluinya.
Semua karena JM tahu aturan main dan tahu memainkannya.
Setelah dia lepas dari pengampuanku, dia bisa melangkah menuju suatu institusi yang lebih besar lagi dan lebih besar lagi. Hari ini aku bangga dia telah menjadi marketing officer di sebuah perusahaan swasta asing.
”hanya kemauan yang kuat serta keinginan untuk selalu menjadi lebih baiklah yang menjadikan kita bisa”
Entries (RSS)
January 9th, 2008 at 2:44 pm
wah mbak diah bisa aja,….jujur saat malam ini tepatnya rabu/9/01/2008, pk.2143 wita. aku baca si JM ini, aku seperti terbawa kembali ke masa 4,5 tahun silam……kangen, seneng, rasanya jadi satu dalam pikiranku……………….
ya….itulah hidup, gak ada yang bisa diperkirakan akhirnya…..
trim’s mbak di, aku gak pernah menyangka dapat sesuatu yang menyenangkan ini….
bravo mbak diah……..
numpang iklan….semangat pagi!!!!!! ….itu jargon pers sekarang….