Suatu hari, aku didatangi seorang yang katanya menyayangiku . Kemudian dia berkata padaku†hidup ini harus keras pada diri sendiri, jangan menuruti kesenangan diri sendiri†(SW, akhir desember 2006) sama sekali aku tidak setuju. Menurutnya, hidup ini harus keras dengan diri sendiri sehingga kalau kita susah kita tidak kaget. Artinya hidup ini bagi dia adalah penderitaan. Bukan untuk kenikmatan. Susah bagi aku untuk menerimanya. Hidup untuk penderitaan. Karena hidupku memang untuk bersenang senang. Tidak ada hari tanpa tertawa. Karena tertawa adalah tanda bahagia. Tanda senang. Dengan bersenang senang berarti kita bersyukur. Dengan bersenang senang berarti doa kita pada tuhan sudah terkabulkan. Yaitu bahagia dunia akherat. Karena pintu dunia adalah pintu akherat kita. Dari sekarang sebenarnya sudah tahu dan sudah kita rasakan pintu akherat itu. Pintu itu pintu bahagia kita. Secara prinsip aku tidak setuju kalau kita beragama itu adalah sebuah suatu kesusahan kita. Contohnya: hari ini puasa kita harus menahan hawa nafsu, bla bla bla……… dan kemudian merasa terpenjara. Saya tidak sepakat. Tetapi coba kita nikmati puasa itu. Kita nikmati peraturan itu. Kita lakukan dengan bersenang senang, pasti semua juga akan ringan. Dan pintu akherat itu juga demikian pasti. Keras untuk diri kita dengan cara bersenang senang. Membahagiakan diri. Membalik mindset kita dengan yang negative itu menjadi semua yang positif. Yang akhirnya timbul istilah tempe cinta, nasi cinta. Bahannya yang dimasak biasa, tetapi ada cinta dan bahagia di dalamnya( billy mansyur, 2007) Jadi kita harus bersenang senang!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Meskipun tiap orang ada cara yang berbeda dalam bersenang senang. (Sedikit memaknai dai HASB, 060607 malam, troba)
Entries (RSS)
July 10th, 2007 at 1:55 am
Senang boleh-boleh saja…tapi jangan lupa tetap mencari orang yang katanya menyayangimu itu..he he…pagi…..!!!
July 12th, 2007 at 4:31 am
setuju dengan cak joyo………..
July 12th, 2007 at 7:49 pm
mbak aku setuju dengan pendapatnya mbak dyah…. bagus itu mbak…. cocok dengan pemikiran saya…. tapi aku mo nanya nih apa hubungannya mbak dyah dengan yang mulia abu………. pemikirannya mbak dyah adalah pemikiran seorang sufisme….. salam kenal mbak… mudah”an kita bisa tukar pendapat dan lebih akrab lagi….. , oh yach mbak terima kasih atas commentnya… di syafii.wordpress.com, kita hidup adalah merupakan wayang yang di lakukan oleh dalang, tergantung dalang akan memberikan fonis apa terhadap wayang, wayang nggak akan bisa menolah apa yang di foniskan oleh dalang, jadi terimalah dan syukurilah apa yang telah di foniskan pada kita….. entah itu baek maupun buruk, jika baek semakin bersujud dan bersyukurlah dengan bahagia, jika buruk cepatlah bertobat dan mendekatkan diri padaNya untuk mendapatkan kasihNya…. mudah”an kebaikan untuk selamanya dan keburukan untuk sementara. thank’s mbak ……. to live is happy
July 13th, 2007 at 8:39 am
Commentku cuman satu : Whatever not kills you, makes you stronger!..:)
July 18th, 2007 at 5:51 am
no love will kill you… semua orang makan tempe, tapi gak semua bisa rasian tempe cinta. makanya bentuklah rasa cinta dalam hati anda tuk mencintai sang pencipta (Allah), pasangan(istri,suami) dan tentunya tempe cinta…….
July 19th, 2007 at 9:20 am
Setuju mba!!! hidup emang mesti seneng, kita cuma sekali di dunia, sisanya ntar di akhirat :P. jadi selama masih di dunia dan selama kita masih bisa ketawa lepas, dinikmati ajaaah!!!
psstt….billy bijaksana juga commentnya, saking seriusnya ada salah ketik tuh paaakkk….
July 20th, 2007 at 7:28 am
Good luck, mba’!! udah bagus semua, gak tau mau kasih komen apa…
Have nice Trip in Banda Aceh!!!
July 23rd, 2007 at 3:12 am
Mbak Dyah…..memang lah SUFII kali pemikirannya….teruskanlah pencarian mu walaupun apa sekali pun dugaan,rintangan,halangan,sekatan…..pokoknta BERSENANG…SSENANG….
July 24th, 2007 at 5:16 am
Hla trus kalo emang sepanjang hidupnya susah terus gimana hayooo….
hehehe…. Kalo menurut Gus Poer sih.. “Hidup sekali koq dibuat susah.. Gitu aja koq repot…”
July 30th, 2007 at 9:10 am
Setujuuu.. tapi jangan lupa ada batasnya, terkadang senang2x itu malah membuat kita acuh dengan yang lain karena terlalu asyik dengan diri sendiri, terlalu asyik dengan rasa senang yang bisa kita dapat, terlalu asyik dengan kemampuan kita untuk merubah kesedihan, kesakitan (bahkan sakit yang riil seperti luka) menjadi kesenangan… (seperti yoga gitu lhoo..)
Cuma ngingetin aja