Maafkan aku. Jika kita kelak masih bisa berhubungan, tentu dalam posisi yang berbeda, meski aku ingin tetap bersamamu, menemanimu, mendoakanmu, mensupportmu. Namun, jika kau kemudian marah dan membenciku, dan ingin menghapus semua tapak perjalanan kita, lakukanlah sekiranya itu membuat kau lebih mandiri. Hapus semua kenangan. Hapus juga tulisan ini dalam file-mu.
Kalau boleh berpesan: Jangan takut. Juga ketika menghadapi kenyataan ini. Aku memutuskan ini, demi masa depanmu sendiri. Kau punya masa depan yang baik. Kau sekarang berada dalam kesempatan emas. Aku bahagia melihatmu dengan semuanya itu. Maafkan aku, sekali lagi.
Cuplikan surat cinta terakhir yang pernah aku terima. Setahun yang lalu. Kemudian aku sedikit tergoyang. Masih manusia biasa. Pernyataan surat ini adalah sangat mengejutkan. Ketika indahnya sedang membangun angan tiba tiba keluar sebuah surat cinta terakhir tanpa sebab. Wow. Bagaimana bisa bangkit?
Sebagai seorang perantau menghadapi hal ini awalnya sempat ada rasa kehilangan dunia yang selama ini menjadi dunia yang menyamankan. Beruntung masih ada Tuhan yang selalu sangat setia mendampingi aku. Tuhan membukakan mataku dengan menyandungkan aku ke sebuah batu masalah kehidupan. Sehingga aku terjatuh, tersungkur, sehingga sedikit demi sedikit aku bangun. Terbuat juga blog ini. Kondisiku sangat lemah waktu itu. Disaat itu kemudian berpegang erat erat pada pemegang tongkat yang on right track.
Teori berpegangan tangan menjadi benar, menurut teori ini, ketika manusia berpegangan tangan, saat berjalan di jalan yang aman, maka pegangan itu sangat bisa biasa saja. Ketika akan jatuh maka pegangan itu semakin erat karena takut jatuh. Kalau sudah jatuh maka dia akan berpegangan erat lagi tak mau di lepas karena tidak mau jatuh lagi untuk yang kedua kalinya.
Bulan ini adalah benar benar bulan setahun aku berpegang erat pada pemegang tongkatNya. Aku bangkit dari sebuat curam yang cukup dalam untuk menanjaki puncak himalaya yang menjulang hingga langit ketujuh. Meskipun saat ini aku tak tau sekarang ada dimana. Saat ini aku hanya bisa memejamkan mata, mengikuti tongkat itu berjalan bersama pemegang tongkatNya.

2 Responses to “Berpegang Erat”

  1. johan mei rama says:

    wah ..so deep banget,….gak bisa di nalar,…resapi aja deh dalam HATI masing-reader.

  2. SANTRI GUNDHUL says:

    Saat ini aku hanya bisa memejamkan mata, mengikuti tongkat itu berjalan bersama pemegang tongkatNya.

    Sik..sik…iki piye to sing sampeyan mangsrudno mbak..??
    Bisakah pemegang TONGKAT tadi menghantarkan DIRI SUJATI ini untu sampai kepada Hadirat-Nya..??.
    Bukankah hanya sang SUKMA JATI, DIRI SUJATI ini yang dalam kondisi TENANG, DAMAI yang bisa menghadap dan masuk di dalam Hadiratnya..?? Ingat kisah perjalanan Mi’roj..?? Jibril sebagai Washilah ( pemegang Tongkat ) hanya berhenti pada anak tangga tertentu…?.

    halah..halah…wis embuh sing penting JUMBUH….

    salam

    Kera Ngalam- di blog yg lain
    soko Padepokan Borneo Timur

Leave a Reply