Menulis adalah pekerjaan kuta sjak kita mengenal kata. B u bubegitu dulu guruku mengajariku untuk menulis dan membaca. Tidak ada yang aneh dalam pelajaran ini. Banyak hal yang kemudian membuat aku bisa tahu dan mengerti dari membaca. Tidak sedikit yang aku dapatkan dari membaca. Setidaknya kalau mau masuk kelas, aku harus mencari gambar perempuan kriting yang ada di papan kecil di balakangnya tertulis namaku. Waktu tk aku mengingat gambarnya saja. Hal ini berbeda saat aku beranjak ke sd. Semua menjadi berubah. Saat aku bermain dokter dokteran dulu aku juga suka mencoret coret dengan tulisan huruf rumjput yang tak tau artinya. Setelah aku sd aku sudah bisa menulisa nama boneka ku sebagai pasiennya. Karena papi waktu itu menyebut aku, kalau mbak dyah dokter gigi. Kalau mbak yani dokter umum ya. 

Kalau dokter tulisannya jelek, jadi aku menjdi dokter dokteran dengan tulisasn jelek. Setelah sd aku tulis nama pasien, obat dokter dan juga aku main guru guuran dan memberi nama murid muridku di buku tulis yang tidak terpakai. Setelah itu aku umpamakan mereka ulangan. Yang kemudian ada nilai nilai di sanan. Menyenangkan sekali awal aku bisa menulis. 

Kemudian pelajaran menulis lambat laun beranjak membuat karangan setiap kali setelah liburan sekolh. Bu guru selalu memberi tugas mengarang pengalaman berlibur. Aku sangat sedih kalau saat aku berlibur aku tidak pergi kemana mana. Karena yang pasti aku tidak mempunyai bahan dalam menulis. Sehingga setiap berlibur aku minta pergi ke rumah mbah di sanan. Letaknya tidak jauh dari rumah ibuku sekitar 1 km saja. Aku menginap disana. Meskipun hanya 2 hari membuat hatiku lega. Karena aku mempunyai bahan untuk menulis. Hal lain lagi yang menyenangkan adalah kalau aku pergi ke tempat yang aku tidak pernah mengunjunginya yaitu kota Jakarta, kelas 4 sd aku ke Jakarta ke taman mini, kemudian ke keliong mas dan ancol. Ini membuat aku kaya bahan untuk mengarang. Senang sekali rasanya kalau aku menulis dan ada bahan yang aku tuliskan. 

Aku ingat sekali setelah aku ke smp, ada pelajaran bahasa Indonesia, yang jengkel kalau aku di suruh membahas tentang fonem konsonan vocal. Yang aku juga tak tau apa kegunaannya sekarang. Tetapi yang membuat aku suka hingga sekarang adalah pelajaran notulensi. Hingga saat ini aku menyukainya. Pelajaran bahasa Indonesia yang membuat aku suka hingga detik ini. 

Sma aku ikut ekstra kuli kulikuler menulis, kelas 1 aku mengikuti lomba penulisan antar kelas ulang tahun bhawikarsu, dan aku menjadi pemenangnya. Tulisanku adalah mengkritik tentang bagaimana pelajar yang tidak punya prestasi. Dan bagaimana bhawikarsu ke depan. Aku tak punya kopiannya tentan tulisan itu. Ada kelegaan tersendiri meskipun tidak ada hadiah khusus karena waktu itu pertandingan team. 

Keinginan menulis berlanjut setelah aku kuliah di fia brawijaya. Aku terobesesi oleh om ku. Di awartawan di kompas, kemudian pindah ke forum keadilan, aku lihat enak jadi wartawam, aku ikut di majalah kampus majalah diaans. Aku suka di sana aku di manja hhehhehehehheh imut imut mau kerja,,,, kata seorang seniorku. Aku sering diajak jalan ke sana kemari. Hingga suatu saat ada diklat dasar jurnalistik di fakultas ekonomi, aku masih ingat sekali, yang jadi intrukturnya adalah anwah hudionom, wartawan senior kompas yang kemudian pindah di harian surya. Saat penugasan penulisan aku menjadi penulis terbaik. Yang aku tulis adalah penonton televise bertuhan pada televise, dengan blitz informasinya. Tulisanku sangat mengagetkan teman temanku di dianns, karena diam diam aku membuat tulisan yang bisa di bilang heboh, untuk kelas anak baru. Senang juga aku saat itu. Tetapi terakhir aku kurang produktif, Karena bebarengan aku di diaans aku harus bekerja di radio makobu. Penulisannya jelas berbeda antara radio dan cetak. Radio adalah media anti detail yang menggunakan bahasa tutur. Hehheheh aku agak terpengaruh. Tetapi sejak tahun 92 itulah aku bergelut dengan bahasa radio, tulisan radio, yang to the point. 

Pikiranku tidak bisa berselingkuh dalam hal penulisan. 

Tahun 1992- 2006 aku di radio dengan doktrin penulisan bahasa tutur dan selintas ………………………. 

Alasan!!!!!!!!!!!!!!!!! 

 

Aku menulis lagi tahun 2007, semenjak di internews, aku harus membuat field report yang cukup detail. Keringatku panas dingin. Tetapi akhirnya aku sangat menikmatinya. 

 

Tanpa disadari kesukaanku menulis proses aktifitas juga terwadahi dengan banyaknya pelatihan dan aku di minta untuk menjadi notulen. Aku suka itu. Tetapi tulisanku tidak sempurna dan tidak runtut. Tulisanku jelek ………………..maaf pembaca kronik baitul amin, ada beberapa tulisanku yang kurang layak baca rasanya…. 

 

Aku mau belajar menulis yang baik . 

2 Responses to “Aku mau belajar menulis yang baik”

  1. chairmanbro says:

    Tulisan bukan bagus atau jeleknya, hal yang penting adalah pesan dari tulisan sampai ke orang yang membacanya. Masalah penulisannya dapat belajar terus menerus!
    Pantang mundur, maju terus…HIDUP TULISAN!

  2. Jarar Siahaan says:

    mbak dyah,
    selamat ya. semoga berhasil menulis yang baik.

    salam kenal.
    jarar siahaan

Leave a Reply