Posted by: dyah, in Berubah
- Suami adalah imam dunia akhiratku, pengertiannya adalah dia adalah wakil pemimpin yang ada di dunia dalam mengarungi perjalanan dunia dan akheratku. Aku perlu mandor dalam hidupku. Karena aku adalah manusia tergantung yang ingin meraih ridho Allah. Tapi aku yakin aku tak akan bisa sendirian harus ada imam disana.
- Seperti sebuah mata rantai yang aku tak akan sanggup meraih sebuah ridho itu tanpa bergandengan tangan dengan mereka mereka yang sudah diberi wewenang untuk itu. Seharusnya ketergantungan sebagai perempuan inilah yang menjadi potensi bagi perempuan untuk bisa patuh kepada sang khalik. Patuh kepada sang khalik berarti patuh dengan apa yang telah tersurat di dalam kitabnya. Tugas perempuan hanya patuh. Nikmatnya menjadi perempuan. Karena yang paling penting adalah bagaimana bisa menjadi seorang pendukung dari suami. Nah, ada hadist atau ayat yang mendukung….. silahkan … aku tak paham. Hanya bacaan di alam semesta aja. Menjadi istri yang patuh, dan selalu berada disamping ketika melakukan ibadah apapun. Karena contoh perempuan bukan cuma Khadijah dan Aisyah. Mereka mempunyai suami suami yang handal untuk bisa mereka patuhi secara padangan kasat mata manusia. Tetapi kepatuhan istri Firaun juga menjadi menarik untuk di telaah. Karena kepatuhan kepada seorang suami yang di mata manusia adalah orang tidak baik. Tetapi menjadi istri ya menjadi perempuan yang patuh. Hanya patuh.
- Ada banyak kesulitan untuk menghadapi hal ini. Di jaman emansipasi seperti ini, disaat perempuan mendapat peluang untuk memperliatkan potensi dirinya di area publik. Yang terjadi kebanyakan perempuan melupakan keberadaan dirinya yang seharusnya. Bagaimana seharusnya dia menjadi seorang pendukung dan penyerta. Bagaimana dia mengambil peran di dalam sebuah lingkungan, baik rumah tangga maupun lingkungan pekerjaannya. Saya tidak sepakat dengan emansipasi. Di tengah aktifitas saya yang cukup banyak ini, saya berusaha mencoba mencari nilai nilai rujukan di mana kedudukan perempuan yang sesungguhnya. Dan yang saya dapatkan adalah perempuan punya potensi patuh dan harus patuh. Ok.
This entry was posted
on Friday, April 18th, 2008 at 12:16 am and is filed under Berubah.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
April 28th, 2008 at 4:03 pm
Andai saja semua perempuan memiliki kesadaran atau pola pikir seperti itu,, maka yang terjadi Megawati tidak akan jadi Presiden. RA KArtini tidak akan jadi Pahlawan, ha.ha.ha….
Tapi inilah sosok seorang Dyiah Agustine alias Kakakku Si Mancoeng, dyiah adalah seorang wanita religius, dia mengajari kita bagaimana supaya Kita Siapapun Lebih Berhitung dengan Tuhan Dari pAda Kepada Makhluk, hal ini berarti Cinta kepada Tuhan Adalah segalanya..
Bahagia dan Sukses Untuk Kakaku MAncoeng..
May 20th, 2008 at 1:34 pm
Saya seorang suami. Patuh yang baru saya pahami adalah mengendarai mobil di jalur yang benar. Selain membuat tenang istri, ketiga anak saya (anak pertama almarhum) akan gembira melihat pemandangan selama perjalanan.
Jalur yang sedang saya lalui yaitu Kodrat kita sebagai manusia yang diciptakan hanya untuk beribadah dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Saya mempunyai hobi dzikrullah sebagai kendaraan saya. Saya bersyukur di beri karunia ini. Perjalanan ini jadi mengasyikkan, menskipun kadang mendung gelap, hujan deras, bahkan kendaraan mogok di jalan. Tapi kami Insya Allah tetap berharap semoga apapun yang kami lewati dalam rangka menuju kehadirat-Nya. Semoga Kakak selalu sukses.
June 3rd, 2008 at 6:31 am
Dibelakang lelaki sukses pasti ada seseorang perempuan hebat…