Archive for August, 2007

Kata kata ini sering kali terdengar, sebagai bentuk “sendiko dawuh marang Gusti “. Pagi pagi perbincanganku dengan riska adalah tentang sami’na wa ato’na, gampangannya ngikut aja tanpa syarat. Sulit memberikan pengertian ini pada seorang awam tentang ini. Bahkan kaum moderat mereka juga jarang bisa menerima konsep ini. Sebagai orang moderat semua harus menggunakan akal pikiran. Dengan menggunakan otak. Berbeda dengan konsep sa mi’na wa ato’na, yang sebenarnya adalah kebenaran untuk patuh pada pemimpin( yang maha benar—demikian seharusnya- red). Saya masih ingat yang pernah disampaikan oleh pak shobarudin, dosen pembimbingku waktu kuliah dulu. Dia menerangkan kenapa orang muslim menggunakan peci atau kopyah sedangkan orang barat menggunakan dasi. Berbincang tentang ashabul nuzulnya, orang barat memakai dasi membawa pada pola perilakunya. Dari penampakannya mereka membuka kepala mereka dan menutup hati mereka. Berbeda dengan orang muslim, mereka menutup kepalanya yang identik dengan pikiran dan membuka hatinya.

Sehingga harusnya bisa di pahami konsep wami na wa ato na bagaimana yang harus kita lakukan. Bukankah sa mi na wa ato na itu harus pahami dengan hati bukan otak. Bahasa sederhananya adalah yang penting patuh patuh saja kepada pimpinan kita (tentunya yang maha benar– Red merangkum HASB) kalau pimpinan Yang Maha benar menyampaikan mengihtruksikan sesuatu pasti ada latar belakang, dan begin from the end-nya. Dan yang penting lagi adalah Allah memberikan sesuatu pada makhluknya sesuai dengan kemampuan masing masing. Jadi jangan bandingkan satu dengan yang lain.

(menanggapi yang di sampaikan Abu kepada Kak Mer,090807)

Banyak orang mengeluh karena fenomena yang dilihat adalah orang kaya semakin kaya, orang miskin semakin miskin. Keluhan yang lain yang muncul adalah orang yang sudah mempunyai pekerjaan, pekerjaannya sampai bertumpuk tumpuk. Sementara orang lain sulit mencari pekerjaan. Ini adalah hal yang sangat sangat biasa dalam kehidupan kita. Melihat orang hanya pada permukaan saja. Jarang melihat esensinya. Dua hasil pencapaian manusia yang saling bertolak belakang sukses atau gagal. Orang sukses biasanya di sebut dengan si tangan dingin. Karena apa pun yang dia pegang akan berhasil. Berbeda dengan orang gagal apapun yang dipegangnya akan gagal. Secara gampang maka orang sukses di identikan dengan raja midas, semua sentuhannya tampak bertukar menjadi emas ,( Raja Midas – demikian cerita dongeng Yunani yang menyaksikan seorang Raja yang mampu menukar setiap benda yang dipegang kepada emas, red- cerita YM.ABU,080807)

Yang pasti Sukses bukan keajaiban, sukses adalah perjalanan. Karena manusia akan berjalan karena perbuatannya. Dan Tuhan senantiasa tidak henti hentikan untuk selalu berseru kepada alam semesta. Kalau memang seseorang itu sukses karena perbuatan baiknya maka tuhan akan berseru di sekalian alam dan seisinya, wahai semua, ini ada orang telah berbuat baik maka semua sekalian alam berbuat baiklah pada dia. Mungkin demikian ya. Seruan tuhan itu adalah seruan kepercayaan Tuhan kepada si sukses. Akhirnya tuhan akan selalu memberikan amanah amanahnya untuk melakukan yang lebih, yang lebih dan selalu yang lebih…………………………….. orang sukses kadang merasa tidak sadar dirinya telah sukses, karena yang dilakukannya adalah keinginan dari dirinya untuk berbuat yang terbaik.

(Catatan perjalanan medan, 06-080807, YMAAKF,HASB)



Perjalananku di sebuah hutan membuat aku ngeri. Ngeri sekali. Karena konon di hutan ada hal hal yang membuat manusia biasa ini menjadi sedikit mistis. Jadi kadang terasa merinding tiba tiba. Terasa ada yang mengikuti. Yang aneh aneh lah. Aku ceritakan hal ini pada teman dekatku (seorang climber begitu dia menyebutkan dalam ktpnya namanya Ucong, karena terobsesi menjadi menantu Pak Coki, sekarang namanya berubah menjadi Conkie—red , medio Januari 99). Yang dia katakan adalah setiap dia mau melakukan sesuatu hal selalu dia lapor pada Gurunya. Aku langsung bertanya, lho wong di hutan kok lapor.

 Kalau di pikir pikir  iya ya kalau punya guru yang itu adalah identik dengan panutan kita atau pimpinan kita, dan kemudian kita lapor kan setidaknya ada yang tanggung jawab. Kalau kita kesulitan tinggal minta tolong saja, kok susah. Jadi kalau tidak punya guru kenapa kita tidak cari guru. Kalau kita tidak punya pimpinan kenapa kita tidak mencari pimpinan. Guru juga macam macam. Guru bahasa inggris dia akan mengajari kita kalau kita kesulitan dalam berbahasa inggris. Guru silat  juga akan membantu kita kalau kita kesulitan dalam silat apalagi kalau kita mendapatkan kesulitan menghadapi hajaran dari lawan. Guru agama juga begitu. Guru spiritual ya begitu juga kan. Kalau kita sulit ya tinggal lapor saja.

Tetapi sebagai murid kita juga harus tau diri, bagaimana menjadi murid yang baik. Bagaimana laporan kita akan menyenangkan hati Guru. Laporan kepada guru itu adalah identik dengan minta ijin. Ya sebagai murid juga jangan seenak enaknya sama sama saling menjaga.

 

( tulisan ini menunjukan ternyata dari Uconk masih ada yang diingat oleh mancoeng)   

Istilah ini aku ambil dari seorang sahabatku yang cukup mempesona perempuan bukan hanya di dalam negeri, tetapi hingga ke seberang negeri  namanya Jhon Odha Aidil. Pengertian gampangnya adalah sambil kita kipas kipas kita mendapatkan pemasukan tanpa kita harus bekerja keras lagi. Kalau istilah para ulama itu ya amal jariyah. Amal yang tidak putus hingga kita ke liang lahat. Gimana caranya membuat pasif income itu? Yang jelas kita harus investasi. Investasi bisa saja uang, kalau yang kita harapkan uang. Investasi tanah kalau yang kita harapkan dari kekayaan tanah. Investasi karya kalau yang kita harapkan adalah karya. Investasi kebaikan kalau yang kita harapkan kebaikan. Tentunya semua ada bunga berbunga ketika kita berinvestasi. Demikian dalam ilmu ekonominya. Contohnya invetasi modal di bank, bunga yang kita dapatkan dan itu pasti menjadi semakin besar dan besar. Kalau investasi kebaikan pasti ada juga bunganya. Bunga yang kita harapkan juga lebih besar dan lebih besar. Bunga kebaikan yang sebenarnya datangnya bukan dari sekedar manusia biasa tentunya. Dan semuanya harus dikerjakan dengan serius. Begitu kata bapak saya ( maaf ngaku ngaku, Bang In Malik disampaikan oleh HASB-red) Kalau kita mengerjakan kebaikan dengan serius meskipun sebiji zarah pasti bunganya juga akan menjadi bukit berbunga, seperti lagunya Uci Bing Slamet.

(Ini yang aku tangkap dari Jhon Odha, Jhon kalau ada yang kurang betul tolong betulkan ya, dan kata katamu selalu berarti kok. Kalau baru kali ini di tulis karena aku belum bisa memformulasikan dalam bentuk tulisan saja)