Archive for August, 2007

Tidak ada hidup ini tanpa memilih, tidak ada hidup tanpa resiko. Sebuah pilihan berarti memilih sebuah resiko. Semua pasti ada resikonya, dan harus dilakoni. (bapaku dalam suatu malam). Selalu aku diingatkan untuk pilihan dan pilihan. Hal ini membuat aku berani untuk bertindak. Meskipun keberanianku hingga saat ini masih belum hingga 100 %. Akan mengarah ke sana. Menghilangkan keraguan selalu teriring dalam doaku sehari hari dari tuntunan maha guruku.

Memilih merah atau putih, biru atau kuning, semua pasti sama baiknya. Tidak ada yang lebih baik di dunia ini. Karena kebaikan yang haq hanya milik Allah. Artinya semasih kita sebagai manusia tidak akan bisa mendapatkan sebuah pilihan yang sempurna. Yang ada adalah memilih itu adalah mau menerima resiko resiko yang mengitarinya. Kesadaran untuk menerima resiko dan memaklumi serta menyadari bahwa resiko adalah bagian dari pilihan perlu kebesaran hati dan kebijakan pada diri manusia. Orang yang takut resiko cenderung takut untuk menentukan pilihan. Dan orang yang tidak berani memutuskan untuk melakukan tindakan untuk memilih akan hidup stagnan. Hidupnya berhenti. Tidak berwarna dan cenderung tidak akan melangkah ke hal yang lebih tinggi.  Karena pilihan  biasanya dianggap membuat rumit akan datang disaat manusia sudah berada di zona aman. Disaat seperti inilah perlu kekuatan sikap dalam menentukan pilihan dan menerima resiko.

 

( ya …….. menerima resiko harus lapang dada, dan penuh pertimbangan yang cukup matang)

 

Kediri, 31 agustus 2007

 

 

Akhirnya berjalan juga menuju ke sebuah angka 34. Aku melewatinya dengan penuh makna dan harap. Semuanya berliku liku, tapi semua ada juga jalan untuk melompat dan melompat. Menjadi sebuah hijrah yang indah dalam hidup ini. Terima kasih atas kuasa Tuhan yang bisa memberikan aku pada tempat yang lebih leluasa untuk menghidup udara illahi, bersama pemagang tongkatNya. (more…)

Kehidupan ini adalah “mung mampir ngombe”( Alm Nitihardjo.) petuah mbah kung yang selalu di ulang ulang bapak, kalau kita berdiskusi malam hari. Kehidupan hanya sebentar sekedar minum untuk istirahat sejenak begitulah ini pesannya. Setelah bertahun tahun tidak aku dengar kata kata itu, hari ini aku mendengarnya lagi. Kehidupan kita sekarang adalah bagaikan seseorang yang sedang perjalanan siang yang cukup panas dan terik. Kemudian kita berteduh sejenak untuk melanjutkan kembali perjalanan, (YMABU, 220807). Sangat di rasakan perjalanan ini. Perjalanan untuk menuju suatu ridho Nya , yang kadang kita tak tau berada di posisi mana puncak klasemen ini.

( Mbah Kung, tidak ada yang salah kalau aku harus berbeda sistematika memaknainya, pada esensinya sama dan sama. Keputusanku hanya karena aku perlu penuntun semata, dan akupun diterima oleh pembawa tongkatNya)

Manusia cenderung mau minta enaknya sendiri dan selalu meminta. Ini sangat wajar. Kita maunya minta aja sama tuhan. Selalu aku ingat kalau sedang sholat di tempat umum dan kemudian antri tempat sholat. Disadari atau tidak ada juga yang kemudian berlama lama untuk berdoa setelah dia sholat. Sementara yang lain berjejer menunggu. Seolah olah kita lebih penting kalau kita dan doa kita di terima tuhan. Peduli amat dengan orang lain. Akhirnya orang lain terlambat sholat. Ibadah sholat, kemudian kegiatan religi itikaf dan lain lain adalah memang semata mata untuk diri kita sendiri. Dalam setiap ibadah habluminallah kita, kita selalu minta ini minta itu. Kita kurang peduli dengan sebenarnya apa yang sudah kita persembahkan untuk Dia yang selalu memberikan pada diri kita. Kita masih saja sibuk untuk kebutuhan diri kita. Ada beberapa hal yang harus dikerjakan untuk balancing. Yaitu dengan konsep. Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, kalau di terjemahkan adalah memberi lebih bagus daripada menerima. Kalau sudah ada klu begitu, ya berarti kita harus banyak memberikan sesuatu pada tuhan. Aku lupa ini hadist atau apa yang jelas ini aku dapat dari pelajaran SD. Kalau kita datang pada tuhan dengan berjalan, maka tuhan akan menyambutnya dengan berlari. Artinya kebaikan yang kita persembahkan pada Tuhan yang kecil akan di sambut oleh Tuhan dengan sesuatu yang lebih besar.

 

(Sekedar menangkap obrolan Bang Isa Indrawan, Troba, 180807)

Sering kita dengar kata kata, kalau bekerja jangan setengah setengah. Kalau setengah setengah jadinya nanggung. Sangat sering kita jumpai kata kata ini. Totalitas arti harfiahnya adalah menyeluruh secara keseluruhan, atau 100 %. Totalitas dekat dengan loyalitas. Kalau orang bekerja secara totalitas dia pasti memiliki loyalitas yang tidak diragukan lagi. Loyalitas secara harfiahnya adalah rasa kepemilikan seseorang terhadap suatu lembaga. Kepemilikan itu bukan hanya ingin memiliki, tetapi bagaimana dia ada keinginan untuk mengembangkan dan menjadi semakin maju dan semakin maju. Karena orang yang loyal akan merasa inheren dalam lembaga itu. Dalam bahasa komunikasi dia adalah bagian dari instusi bahkan bisa jadi dirinya adalah intitusi itu.

Semakin loyal seseorang dalam sebuah institusi semakin total dia bekerja untuk institusi itu. Apa yang menyebabkan total dan loyal ini? Tidak lain adalah keyakinan. Keyakinan bahwa institusi yang sudah melekat pada dirinya akan membawa kebaikan dan anugrah bagi dirinya. Totalitas adalah menunjukan kesungguhan orang dalam mengerjakan apa sedang di hadapinya. Ilustrinya adalah dalam perusahaan Pak Jendral(HASB). Pak Jendral di minta untuk membawa prajuritnya ke markas besar menghadap Panglima Tertinggi, dalam suatu tugas untuk membuat sebuah perencanaan strategi pengembangan human resource. Jendral awalnya hanya akan datang bersama 2 prajuritnya. Tetapi hari berikutnya jendral berubah pikiran untuk membawa 2 prajurit lagi. Dengan pertimbangan pasti pasukan dari Panglima Tertinggi akan bisa bergabung dalam penyusunan strategi ini. Jendral berpikir panjang dan berpikir tentang totalitas, tidak mau bekerja apa adanya. Akhirnya jendral memutusnya untuk berangkat menjadi 10 prajurit dengan 1 Jendral.

Melihat prajurit yang di bawa oleh pak jendral begitu banyaknya, dari rencana semula 3 menjadi 11, Panglima Tertinggipun cuma geleng geleng kepala dan seraya berkata,” inilah yang disebut totalitas”. Karena para prajurit yang datang benar benar siap perang. Tak parjuit inilah yang akan menjadi garda terdepan. Memiliki posisi startegis sebagai pemegang bendera. Sebagai pemegang bendera, berarti dia selalu di depan untuk membawa sebuah roh sebuah institusi. Bendera adalah lambang kehormatan, yang harus betul betul di jaga sampai titik darah penghabisan. Itulah posisi yang di berikan pada prajurit yang di pimpin Pak Jendral. Dan orang orang yang total seperti ini akan selalu di kejar kejar amanah Tuhan. Karena Tuhan sudah terlanjur mempercayainya untuk suatu misi misi yang lain.(medan, YMABU060807)

Semua prajurit hanya bisa tertunduk, karena tidak semua prajurit tahu bahwa dirinya menuju totalitas, atau sedang totalitas. Sebagian ada yang merasakan itu adalah habit saja. Sebuah kebiasaan untuk bekerja sepenuhnya.

Maha benar Allah dengan segala firmannya…………………………………….

(Fifas …………………………………………entah apa yang kemudian harus dikatakan kalau sudah ada yang menjadikan kita seperti ini)

Dalam sebuah perjalanan kehidupan selalu ada peristiwa peristiwa yang mengintari. Peristiwa yang membuat kita tertawa. Karena peristiwa itu membuat membahagiakan hati kita. Saat kita di ajak bermanja manja dengan orang tua kita. Kemudian kita di perintah untuk belajar. Akhirnya kita menjadi juara. Menyenangkan dan membahagiakan. Di saat bahagia kemudian ternyata ada masalah dalam keluarga kita. Kehidupan bapak ibu kita yang sedang mengalami perselisihan. Sebagai anak kecil kita tak tau apa yang mereka lakukan. Tetapi terekam dalam otak kita. Mengumpul, mengumpul menjadi sebuah data yang lama kelamaan juga akan penuh, dan menjadi memori. Atau kerenya menjadi bank data dalam kehidupan kita. Dari perjalanan itu kemudian tahu tahu ada loncatan peristiwa yang menyertai, kita semua pernah mengalami. Kok kebetulan itu terjadi, atau kadang kita bilang untung ada ini, untung ada itu. Untung ada ini. Kadang kita bilang itu hukum kebetulan. Padahal itu semua adalah rencana Tuhan (YMABU, 190807) rencana rencana tuhan itu akan terjadi karena ijin dari Nya. Sehingga kita sebagai manusia hendaknya bisa mensyukurinya. Setiap apapun yang terjadi dalam perjalanan hidup kita. Jodoh, mati, rejeki adalah hak prerogatif Tuhan yang tidak bisa di ganggu gugat.

Satu hadistNya, Allah tidak akan merubah satu kaum kecuali kaum itu merubah nasibnya sendiri. Harus ada usaha yang kita lakukan agar Allah merubah ketentuannya. Kita tidak bisa hanya berdiam diri dan meminta. Ada harus kita berikan kepada Tuhan. Yaitu pengabdian kepada Tuhan. Karena rencana tuhan niscaya akan equivalen dengan pengabdian itu sendiri.

 

(Tulisan ini berdasarkan kacamata, seseorang yang sedang belajar untuk mendengar, melihat, berpikir dengan hati-fajrul hidayat)

“Seberapa besar cinta abang? Cinta abang hanya seujung kuku. Dia sangat kecil, tetapi setiap kali dia di potong dia akan tumbuh terus, dan terus dan terus. Tak akan mungkin orang tidak berkuku. Dia kecil tetapi selalu ada. ”

O ala cinta ……………………..

(Aidil orangnya besar tetapi untuk berkata tentang cinta sangat mendalam dan dalam hati yang sangat dalam) berbeda dengan badannya yang sangat kekar. Tak salah sebagai bintang roman internasional. Hasil dari wawancara dengan penemu ide(aidil,yang sedang menggunting dalam lipatan, red, kalau salah mohon koreksinya) dia orang yang memang jauh dari penampakan romantis. Karena memang rasa cinta dan romantisme tidak perlu banyak orang tau hanya rasa yang entah akan bagaimana impelementasi rasa itu. Mudah mudahan cinta seujung kuku selalu ada dalam kehidupanku. Dan memang selalu ada cinta dalam hidup ini. Kalau tidak, akan rumtuh dunia ini.

( terima kasih cinta yang selalu hidup dan menghinggapi hati diriku ini–à kalau Uung baca ini dia pasti bilang tulisan anak kampung, tetapi tak ada Ung ini tulisan dari kampung cinta)