“Mbak sudah sampai dufan, ini namanya dufan “, itulah celetukan orang orang dekatku.- Haidir dan Mardi. Aku orang udik yang baru menginjak dufan. Anggapan ini bagus. Artinya memang aku orang yang di anggap tidak terlalu banyak keluyuran, gimana mau keluyuran, lha wong rumahnya saja di hamper Jakarta coret. Eh sudah Jakarta coret ding. Sawangan juga bukan di sawanganya. Aku tinggal di sebuah desa kecil di perbatatasan depok dan bogor. Tepatnya desa curug. Di desa itu dulu kata orang angker, sekarang menjadi ramai karena ada sebuah surau yang di bangun oleh Syaidi Syeh Prof. Dr. Kadirun Yahya. Disitu lah aku tinggal. Di pesantren, yang biasa orang menyebutnya dengan sebutan surau baitul amin. Layaknya orang pesantren, aku tidak terlalu banyak pergi keluar dari lingkungan itu. Yang menjadi nyaman bagiku adalah tempat ini tidak memaksa aku untuk berpenampilan layaknya orang baik baik menurut pandangan orang normatif. Sehingga aku masih hidup dengan seperti kehidupanku apa adanya, bukan apa adanya. Tetapi artinya aku juga tidak semau gue. Aku tau diri lah…….. pakai jilbab hanya untuk event event tertentu saja, kalau tidak ya, aku copot saja. Dan memang tidak ada kewajiban di sini untuk memakai jilbab. Hidupku di sini menjadi lebih teratur. Artinya aku sangat bisa mengatur waktuku, untuk mengurusi kehidupan fanaku atau kapan aku ngurus perjalananku menuju akherat. Aku bisa mengekspresikan siapa dyah mancoeng ini yang seharusnya. Semua pekerjaannya adalah sinergi antara pekerjaan dunia bekerja di internews saat ini dan bekerja sebagai hamba Allah (uhui ——-) menarik dan tantangan. Terima kasih aku sudah di beri tempat disini.
Suatu saat aku naik taksi. Aku baru saja nongkrong di citos, sampai jam 11 malam. Aku pulang naik taksi, dijalan seperti biasa aku banyak ngobrol dengan tukang taksi itu. Sesampai di jalan curug, kemudian aku bilang pos belok kanan ya pak. Dia masuk dan bilang, susah buk, bisa pak , aku bilang. Ternyata memang bisa. Karena aku naik taksi bukan untuk yang pertama kalinya. Aku selalu naik taksi kalau dari bepergian jauh atau pulang terlalu malam. Ibu ini cantik cantik, nongkrongnya di citos kok rumahnya di pelosok. Hehhehehhe…… tukang taksi itupun heran melihat rumahku di desa pelosok banget.
Aku tidak memposisikan menjadi orang baik baik, karena aku sadar sepenuhnya aku bukan seperti yang dibayangkan orang, yang selalu duduk diam dan iya. Kecenderunganku adalah diam dan mendengarkan untuk menjadikan semua adalah pelajaran hidup bagiku, karena ada keletihan untuk berjalan dengan segala bentuk eksperimenku.
(Swg, 16 juni 2007)