Archive for June, 2007

Kadang kita merasa sombong dengan beban yang kita pikul. Sehingga kemudian keluar kata kata berat sekali bebanku ini. Kemudian kita berlagak suntuk dan berlagak penat. Yang semuanya itu adalah menunjukan bahwa kita sangat sombong. Seolah olah kita yang harus menyelesaikannya. Padahal semua yang ada pada kita sebaiknya kita kembalikan lagi kepada Yang Maha Berhak. Dan bahkan Tuhan tidak akan memberi sesuatu pada makhluknya kecuali berdasarkan kemampuan makhluknya.

Sehingga kita juga harus ingat juga bahwa Tuhan tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya. Kalau sudah begitu artinya kita harus siap berubah setiap saat. Siap untuk menyerahkan semua pada Tuhan. Termasuk semua beban hidup kita, kita hanya pelaksana saja yang berjalan berdasarkan kekuatan perhitungan manusia.

Yuyun, sewaktu makan siang tadi sempat bilang, sebenarnya semua berpusat pada kehendak hati kita, karena kehendak hati kita akan mengajak energi sekitar kita untuk membantu semuanya. Jadi hati hati dengan omongan. Karena apa yang terucap adalah motor penggerak bagi apa yang akan terjadi pada diri kita dibantu oleh energi sekitar kita.

Jadi yang percaya pada Tuhan dengan kita menjaga omongan, karena setiap kata adalah doa.

Ampera , 27 juni 2007

Asal ada pulpen, tulis nomer hp beres. Begitu Amar berkisah. Orangnya sedang sedang saja, perawakan tidak tinggi amat. Cukup lah. Kalau ketampanan itu sangat relative. Tetapi dia cukup lihai menangkap peluang. Sangat optimis dan tidak patah arang. Dia pegang teguh kata kata pak jendral, tak ada kata kalah, tetaplah berjuang. Itu yang menjadi pegangan dalam perjuanganya meraih simpati para bunga. Dengan mudah dia di dekati kaum hawa. Caranya sangat klasik. Dia sering kali memberi nomor hp pada seseoraang yang memberikan signal padanya, dia hanya menunggu reaksinya. Kalau dia memberikan kesempatan, disaat itulah dia masuk.

Tapi bagus, Ketimbang STMJ, kata aming meminjam istilah tarom. Sudah tua masih jomblo.

dufan oleh pak teddy

ucapan ulang tahun 3 pesan yang aku ingat dari beliau, jangan bertikai tentang agama, junjung tinggi kedua orang tua kita, selalu lah berpaut pada kebesaran ilahi. Itu yang aku ingat dan menurut penangkapannku. Dengan demikian tidak mungkin Tuhan akan meninggalkan kita.
Sekali lagi selamat ulang tahun Ayah, anak yang baik adalah bisa meneruskan cita cita Ayah tentunya. Tetap terus untuk menjalankan amanahnya.

Salam takdzim ananda

-dyah -

surau baitul amin “Mbak sudah sampai dufan, ini namanya dufan “, itulah celetukan orang orang dekatku.- Haidir dan Mardi. Aku orang udik yang baru menginjak dufan. Anggapan ini bagus. Artinya memang aku orang yang di anggap tidak terlalu banyak keluyuran, gimana mau keluyuran, lha wong rumahnya saja di hamper Jakarta coret. Eh sudah Jakarta coret ding. Sawangan juga bukan di sawanganya. Aku tinggal di sebuah desa kecil di perbatatasan depok dan bogor. Tepatnya desa curug. Di desa itu dulu kata orang angker, sekarang menjadi ramai karena ada sebuah surau yang di bangun oleh Syaidi Syeh Prof. Dr. Kadirun Yahya. Disitu lah aku tinggal. Di pesantren, yang biasa orang menyebutnya dengan sebutan surau baitul amin. Layaknya orang pesantren, aku tidak terlalu banyak pergi keluar dari lingkungan itu. Yang menjadi nyaman bagiku adalah tempat ini tidak memaksa aku untuk berpenampilan layaknya orang baik baik menurut pandangan orang normatif. Sehingga aku masih hidup dengan seperti kehidupanku apa adanya, bukan apa adanya. Tetapi artinya aku juga tidak semau gue. Aku tau diri lah…….. pakai jilbab hanya untuk event event tertentu saja, kalau tidak ya, aku copot saja. Dan memang tidak ada kewajiban di sini untuk memakai jilbab. Hidupku di sini menjadi lebih teratur. Artinya aku sangat bisa mengatur waktuku, untuk mengurusi kehidupan fanaku atau kapan aku ngurus perjalananku menuju akherat. Aku bisa mengekspresikan siapa dyah mancoeng ini yang seharusnya. Semua pekerjaannya adalah sinergi antara pekerjaan dunia bekerja di internews saat ini dan bekerja sebagai hamba Allah (uhui ——-) menarik dan tantangan. Terima kasih aku sudah di beri tempat disini.

Suatu saat aku naik taksi. Aku baru saja nongkrong di citos, sampai jam 11 malam. Aku pulang naik taksi, dijalan seperti biasa aku banyak ngobrol dengan tukang taksi itu. Sesampai di jalan curug, kemudian aku bilang pos belok kanan ya pak. Dia masuk dan bilang, susah buk, bisa pak , aku bilang. Ternyata memang bisa. Karena aku naik taksi bukan untuk yang pertama kalinya. Aku selalu naik taksi kalau dari bepergian jauh atau pulang terlalu malam. Ibu ini cantik cantik, nongkrongnya di citos kok rumahnya di pelosok. Hehhehehhe…… tukang taksi itupun heran melihat rumahku di desa pelosok banget.

Aku tidak memposisikan menjadi orang baik baik, karena aku sadar sepenuhnya aku bukan seperti yang dibayangkan orang, yang selalu duduk diam dan iya. Kecenderunganku adalah diam dan mendengarkan untuk menjadikan semua adalah pelajaran hidup bagiku, karena ada keletihan untuk berjalan dengan segala bentuk eksperimenku.

(Swg, 16 juni 2007)

Kata kata untuk cuci tangan yang sering kita dengar adalah bukan saya kan. Tadi masih bisa, tadi tidak apa apa, tau tau begini. Itu yang sering kita dengar ketika terjadi sesuatu yang menunjuk pada sesuatu yang salah.

Secara tidak kita sadari kita masih mementingkan ke akuan kita, bahwa kita adalah orang yang sempurna, wah, dan paling. Pokoknya saya, tidak ada salahnya. Apa sebenarnya yang kemudian akan kita nikmati dengan bahwa saya. Bahwa saya, membuat kita menjadi tidak bisa bertenggang rasa. Tidak bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain. Atau bahkan terserah orang lain yang penting saya. Seolah kita tidak memikirkan bagaimana orang lain menjadi lebih bahagia dengan kedatangan kita.

Suatu hari ABU pernah berkata, bahwa orang ikhlas itu jika dia ada orang lain tidak pernah merasa bahwa dirinya ada. Tetapi ketika dia tidak ada, orang lain merasakan kehilangan.

Orang ikhlas tidak pernah memikirkan tentang keberadaan saya. Yang penting semua bisa berjalan lancar, tidak penting saya ada di mana.

( ….ABU H.Don adalah sosok panutan dalam hidupku, Guru sejati dalam kehidupan dunia akheratku kelak, ….)

Sawangan, 17 Juni 2007, 4mpw aku kehilangan.

kalaulah kita selalu di jalan Allah, ada janji Allah bagi mereka yang selalu lurus di jalannya, janji Allah itu adalah :

TIDAK DIKARAMKAN BAHTERA HIDUPNYA, TIDAK DIPICIKKAN RIZKINYA, DIMULIAKAN OLEH SESAMA MAKHLUK, DIBERIKAN ILMU LADUNI, DIINGATKAN TUHAN KETIKA MATI.

kapan kita bisa menerima itu semua, yang pasti ada kesabaran dan kesadaran kita benar benar menjalankannya. dengan ikhlas.

(…………..untuk cak joyo, bang ramon,,,,, dan teman temanku yang lain, yang sedang dan sudah merasakannya)